Nama : NUR HAKIKI
NIM : 11901348
Prodi : PAI
Semester : 5
Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakaatuh,
Ini merupakan laporan yang saya tulis untuk di serahkan kepada Dosen Pengampu Akademik yaitu Ibu Farninda. Semua yang saya tulis merupakan pengalaman yang sebenarnya saya alami di semester lalu yaitu semester 4.
Sebelumnya saya pribadi meminta maaf jika pemilihan kata atau bahasa yang saya pergunakan dalam tulisan ini terbilang tidak pantas untuk di jadikan sebagai laporan formal kepada Dosen Pembimbing. Untuk itu saya mohon maaf dan bimbingannya.
Berikut laporannya, cekidot.
Semester 4 di mulai pada bulan Maret 2021. Tanggal tepatnya saya lupa, dan lagi-lagi dilakukan secara daring atau online. Akan tetapi mengingat sudah 3 semester melakukan perkuliahan seperti ini, saya menjadi terbiasa dan enjoy-enjoy saja. Meskipun terkadang keinginan untuk kuliah secara normal dan bertemu dengan ribuan pasang mata di kampus itu ada.
Perkuliahan baru, dan tentu saja mata kuliah yang baru. Jujur saja, setiap kali berganti semester saya selalu gugup dan cemas dengan itu. Entah itu menyangkut dosennya ataupun kemampuan saya dalam mempelajari mata kuliahnya. Mungkin saja terdengar aneh, tetapi itu sudah menjadi kebiasaan saya setiap kali berhadapan dengan hal baru. Tetapi setelah menjalaninya, seiring waktu hal itu hilang dengan sendirinya.
Sehari sebelum perkuliahan dimulai, teman-teman di grup telah ramai memperbincangkan masalah siapa yang ingin mencalonkan diri menjadi penanggung jawab di kelas. Itu bukan hal baru sebenarnya. Sebab di grup khusus kelas saya (kebetulan dari semester 1 hingga 4 saya sengaja mengambil kelas H) selalu sibuk jika menjelang hari H-1. Selalu begitu. Tetapi dalam waktu tidak mencapai 24 jam. Pasti yang menjadi PJ di kelas itu, tetap orang yang sama seperti sebelumnya. Pemandangan yang telah biasa bagi saya. Dan karena saya telah terbiasa dengan pemandangan seperti itu, saya tidak lagi heran ataupun cemas dengan pemilihan yang mereka lakukan. Sebab teman di semester baru ini, juga teman yang sama di semester sebelumnya.
Setelah itu seperti biasa, berhadapan dengan hari Senin, mata kuliah hari pertama dimulai. Perkenalan, membuat absen, melakukan meet, hingga membuat tata tertib dan perjanjian selama mengikuti perkuliahan di lakukan. Itu berlangsung selama minggu pertama. Sebab setiap dosen pasti memperkenalkan diri, juga meminta peserta didik di kelas yang di ampunya memperkenalkan diri, terkadang juga meminta sebutkan di mana tempat mahasiswa berasal, apalagi di kondisi pandemic seperti sekarang.
Minggu kedua, pemberian materi mulai diberikan. Dan pengalaman yang paling berkesan di minggu kedua, saya ingat sekali, adalah mata kuliah Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Mata kuliah hari Rabu. Di minggu kedua itu, kami di minta untuk mengamati gambar hitam putih yang berisi hewan-hewan yang serba tidak jelas. Mulai dari gambarnya yang buram dan pixel gambar yang pecah-pecah, hingga hewan-hewannya yang bergabung menjadi satu. Khas psikologi sekali. Dan lebih tidak jelas lagi, kami di minta untuk menghitung berapa hewan yang ada di sana. Sangat tidak jelas, tetapi sangat menyenangkan.
Setiap orang yang ada di meet waktu itu mulai memfokuskan diri menghitung ‘hewan’ termasuk saya sendiri. Saya berfikir “Ahh.. ini mah gampang”. Sebab di gambar burik itu yang terlihat hanya sekitar 5 gambar. Ada gajah yang sangat besar. Lalu kaki gajah itu di ganti dengan burung. Ekornya dari ular yang menjuntai. Lalu di bagian perut ada seekor keledai dan si Keledai di sempurnakan oleh kelinci di atas telinganya. Seperti itulah yang saya dapatkan.
Berdasarkan intruksi yang diberikan oleh Dosen Pengampunya, bahwa yang telah menemukan disilahkan menyebutkan jumlahnya. Dan di meet pun ramai dengan angka-angka, dan saya juga tidak mau ketinggalan menyebutkan jumlah ‘hewan’ yang saya temukan dengan segenap kemampuan saya. Saya meneriakan kata lima dengan semangat. Tetapi sebagai tanggapan, Dosen itu mengatakan bahwa yang jumlahnya lima merupakan hewan yang memang sengaja di perlihatkan, dan secara psikologi, yang menjawab jumlah hewannya lima bahkan belum mengerahkan fikiran sama sekali.
Malu? Tentu saja. Sekali malahan. Tetapi bukan hanya saya sendiri saja yang mengalaminya. Jadi, Santuy-lah. Selain rasa malu itu, semangat untuk mencari juga jadi semakin tinggi. Saya sangat penasaran dengan ucapan Bu Dosen yang mengatakan bahwa hewan yang ada digambar bahkan bisa mencapai belasan. Dan teman-teman yang lain juga dengan semangat menyebutkan angka dari 11 hingga kurang dari 20 tanpa berfikir panjang.
Dan ketika ditanya siapa saja yang menyebutkan angka belasan tadi, mereka saling tunjuk dan akhirnya korbannya jatuh kepada Mahasiswa bernama Bandy. Bandy menyebutkan bahwa ada sekitar 13 hewan di sana. Mulai dari udang yang berada di tengah kaki belakang Keledai, ada Nyamuk di bagian paha si Gajah. Ikan berada di mata si Gajah. Dan hingga di urutan ketiga belas, dia menyebutkan bahwa ada Dinosaurus berada di gading si Gajah. Mendengar hal itu semuanya tertawa dan ada juga yang sengaja menambahkan hewan tungau di urutan 14.
Menurut si Ibu Dosen, angka yang disebutkan oleh si Bandy belum sempurna. Dengan kata lain, masih terdapat hewan-hewan lain yang harus di temukan, selain Dinosaurus yang ternyata salah itu.
Dan saat yang lain semakin ribut, tiba-tiba Bu Dosen mengirim pesan di grup mata kuliah, bahwa ia terkeluar dari meet. Dan itu di manfaatkan oleh teman sekelas saya yang bernama Taufik Pratama untuk menampilkan gambar di meet. Taufik menyebutkan bahwa ada sekitar 17 hewan. Ia pun memberikan warna-warna yang berbeda dengan membuat kolom-kolom warna pada setiap hewan yang ditemukan. Semua teman-teman memuji kehebatan Taufik dalam mencari hewan-hewan itu, dan mengatakan bahwa Taufik cocok untuk berternak hewan. Bahkan ada yang menambahkan Taufik juga cocok untuk memelihara Dinosaurus milik Bandy.
Taufik menganggapi pujian teman-teman sekelas dengan – yang saya kira pada awalnya – kerendahan hati. Tetapi pada akhirnya malah membuat sekelas emosi. Ia mengatakan, “jangan puji aku, tapi pujilah google yang sudah memberikan gambar yang jelas lengkap dengan nama-nama hewan pada gambarnya. Dan aku yakin, Ibu juga search bahannya dari google. Oleh sebab itu aku bisa jawab semuanya, Hahaahah…” Lalu dia mengirimkan link sumber gambarnya ke dalam grup kelas. Wah… Wah…, saya baru menyadari bahwa mungkin inilah penjelasan dari istilah Guru kencing berdiri, murid kencing berlari, yang sesungguhnya. Di mana guru memberikan sumber belajar berupa gambarnya dari google, muridnya lebih lihai dengan mencari gambar lengkap dengan penjelasan detail hingga warna-warna yang jelas pada gambar itu.
Entah kenapa, saya merasakan bahwa anak di semester 4 itu… Semakin mengerikan.
Hal lain juga saya temukan yaitu ketika UAS, dosen memberikan soal pilihan ganda yang ia search dari google, yang mudah ditemukan oleh mahasiswa, apalagi UASnya bersifat open book, karena gak ada buku, berarti sah-sah saja membuka google, apalagi cari bukunya juga e-book via google. Dan soal yang berjumlah - jika di hitung per skor - 50 itu, 31 skornya bisa di dapatkan dari google. Entah karena ingin lihat tingkat kejujuran mahasiswa atau ingin mempermudahnya, saya berterimakasih sekaligus merasa malu dengan kemampuan diri saya sendiri.
Lain dengan pelajaran Psikologi Perkembangan, pelajaran Pengembangan Bahan Ajar PAI 2 lain lagi. Dosen Pengampunya malah mempersilahkan Mahasiswa melihat google, tuntutan Makulnya yang penting aktif saja. Selain itu, si Bapak juga meminta peserta didiknya membacakan, lalu memberikan penjelasan yang lebih sederhana terkait materinya. Cukup mudah asal mau berkorban lebih banyak kuota tentu saja. Sebab selain search kita harus menggunakan meet di waktu yang sama. Tetapi, yang mengerikan dari pembelajaran yang ini adalah, beliau selalu mengabsen peserta didiknya sebelum dan sesudah pembelajaran. Wah… Wah… Yang sambil tiduran sepertinya tidak punya kesempatan, nih. Sebab pasti ketahuan siapa yang benar-benar mengikuti perkuliahan atau hanya masuk meet, tetapi orangnya menghilang.
Minggu kedua, dapat dikatakan berjalan dengan normal dan semakin menarik. Saya sebutkan dapat dikatakan berjalan dengan normal karena sampai saat itu untuk mata kuliah Manajemen Pendidikan tidak ada kabar sama sekali dari dosen Pengampunya hingga kami dapat dikatakan sudah cukup tertinggal jauh dari kelas yang lain. Tetapi meskipun begitu, kelas H terlihat masih tetap santai saja dan masih sempat berkelakar bahwa, dengan ditundanya MP maka kesempatan berehat sejenak di hari Jum’at Pagi masih ada.
Dan tentu saja rehat yang dimaksudkan adalah beristirahat dari lelahnya mata kuliah Statistik yang sangat tidak diduga sebelumnya oleh seluruh kelas. Bagaimana tidak, Statistik itu pemaparan tentang angka-angka. Angka-angka itu pasti berkaitan dengan penghitungan. Dan penghitungan selalu melibatkan Matematika. Mereka menjerit dan mengatakan bahwa mereka masuk ke jurusan PAI karena mengelakkan jurusan yang ada pelajaran matematika. Sangat lucu sekali. Karena itu sangat tidak masuk akal, bagaimana bisa kita hidup tanpa melibatkan matematika. Bukannya di PAI itu bahkan memang ada matematika, terutama dalam pembelajaran Pembagian Waris. Kalau benci matematika, gimana mau menghitung waris dengan baik dan mengajarkannya dengan benar kepada peserta didik. Ada-ada saja.
Saya sebutkan semakin menarik di minggu kedua, karena pada perkuliahan Magang 1, kami diberikan tugas untuk membuat blog per individu dan membuat konten blog berdasarkan apa yang kami baca, lalu di laporkan di dalam blog itu setiap minggunya minimal 1500 kata. Wah, saya pun tidak ingin ketinggalan mencobanya. Bahkan saya menonton tutorial cara membuat blog keren. Tetapi sayang, hal itu tidak terlaksana karena devise yang tidak mendukung. Oleh karena itu, saya hanya mampu membuat blog sederhana yang bernama www.Lasakbrain.blogspot.com.
Saya sengaja memilih kata itu untuk blog saya, agar lebih menarik saja. Atau begitulah kesannya. Sedikit penjelasan, Lasak itu saya ambil dari kata dalam bahasa Melayu yang artinya suka bergerak-gerak meskipun tidak jelas, biasanya lasak ini digunakan untuk mengungkapkan kepada orang yang sedang tidur, yang secara tidak sadar selalu bergerak-gerak tak tentu arah dan berpindah-pindah posisi. Dan dari kata brain yang berasal dari bahasa Inggris artinya otak.
Filosofi yang ingin saya tunjukkan dari blog itu bahwa blog ini akan tertuang tulisan-tulisan tentang berbagai hal, yang penulisnya ingin bagikan kepada pembaca berdasarkan apa yang ia lihat. Sebab alam fikir dari pemilik blog ini selalu bergerak-gerak mencari ide-ide bacaan. Tetapi sayangnya, itu cuma sekedar wacana, sebab pada kenyataannya, saya tidak punya cukup waktu lagi untuk membagikan tulisan sebab tugas yang semenjak daring ini terasa semakin menumpuk.
Pada hari Senin di minggu ketiga, kami mendapatkan jawaban atas Dosen Pengampu Manajemen Pendidikan yang menghilang dan tanpa kabar. Ternyata selama ini beliau sakit dan meninggal dunia pada hari Sabtu di minggu kedua. Innalillahi Wa innailahirraji’un. Kami mengirimkan alfatihah untuk beliau dan berharap beliau memaafkan kami yang sempat membicarakan tentang ketidakhadiran beliau di kelas, dan kami sepakat mengikhlaskan ketidakhadiran beliau seminggu sebelumnya yang tanpa kabar, hingga kami menunggu sejak pagi hingga menjelang sholat Jum’at.
Di minggu ketiga sejak senin pembelajaran seperti pada umumnya, materi lalu penjelasan dan tugas secara kelompok membuat makalah, lalu meresume secara individu. Itu adalah kegiatan akademik rutin yang tidak bisa di lewatkan. Tetapi pada minggu ketiga di semeseter 4 ini, saya juga mulai merasakan aura-aura kegiatan lapangan seperti yang sering di ceritakan kakak-kakak kelas dan guru-guru saya dulu, yaitu kegiatan observasi lapangan atau biasa banyak disebut sebagai magang. Dan memang benar mata kuliahnya juga magang 1. Sebenarnya kegiatan observasi tidak asing sejak semeseter 1saya kuliah. Tetapi hanya bersifat kecil-kecilan dan tidak menemui secara formal pihak sekolah. Dan kali ini, di pelajaran magang 1 di minggu ketiga ini dosen pengampu mata kuliah meminta kelas H menentukan di mana sekolah yang ingin mereka observasi.
Sebetulnya saya pada awalnya sedikit bingung, kira-kira sekolah mana yang dapat saya observasi dan akankah saya di perbolehkan untuk membuat laporan observasi secara individu saja, tidak secara berkelompok. Sebab jujur saja, saya sedikit trauma membuat laporan semacam itu jika dilakukan secara berkelompok, karena pada semeseter sebelumnya saya mendapatkan teman satu keloemok yang tidak bertanggung jawab dengan laporan bagiannya dan membuat kami harus kelabakan saat di telepon dosen pengampu secara pribadi, dan harus mengirimkan laporan itu pada saat itu juga, sebab hanya kelompok kami yang sama sekali belum di kirim. Membuat dosennya tidak bisa memberikan arahan tentang revisi atau tidaknya laporan kami. Dan pada saat itu semuanya mengatakan tidak mengerti, dan untuk menjelaskannya saya sudah tak memiliki banyak waktu, oleh karena itu dengan terpaksa saya melakukan semuanya sendiri. Sangat melelahkan.
Tetapi untunglah, pada observasi dan tugas magang 1 ini, sangat di atur sedemikian rupa oleh dosen pengampu, sehingga memalui arahan beliau, semua dapat mengerti dan mempertanggung jawabkan laporan mereka masing-masing, dan syukurnya lagi, saya mendapatkan teman-teman satu kelompok yang semuanya bekerja sama meskipun berasal dari daerah yang berbeda.
Di minggu ketiga ini juga, kami mendapat dosen pengampu Manajemen Pendidikan yang baru. Dan hal yang tidak kami duga adalah, pada hari pengenalan yang terlambat itu, kami di ‘nasihati’ habis-habisan oleh dosen pengampu yang minta di panggil dengan sebutan Bunda. Secara pribadi saya cukup mengerti dengan situasi yang dialami Bunda. Apalagi saat beliau mengatakan bahwa dalam seminggu terakhir tidak ada kabar dari PJ kepadanya mengenai jadwal kelas tambahan yang ia ampu. Membuat beliau harus bertanya pada kelas lainnya apakah mengenal dan mengetahui nomor salah satu mahasiswa di kelas H. Tetapi saya cukup salut juga, di menit-menit akhir, Bunda masih menyempatkan diri meminta daftar kelompok berjumlah lima orang, dengan rincian satu moderator, panelis 1, panelis 2, narasumber 1 dan narasumber 2. Aturannya masing-masing narasumber mendapat materi berbeda yang ditanggapi oleh satu panelisnya. Dan minggu depan kelompok selanjutnya, yang sudah bertugas di minggu sebelumnya, tidak boleh bertugas lagi.
Dalam daftar tersebut, terdapatlah 7 kelompok yang masing-masing berjumlah 5 orang. Dan sisa 5 orang sebagai penanya lepas. Dan untuk saya sendiri berada di kelompok 5 dengan materi Bidang Kajian Dalam Memajukan Pendidikan.
Minggu ke empat menjadi pengalaman magang dan observasi pertama yang akan saya kenang di semester 4. Saya memutuskan untuk melakukan observasi di SD tempat saya sekolah dulu. Dan saya takjub, sekolah itu sekarang sudah maju dan berakreditasi baik. Meskipun telah banyak guru-guru baru yang mengajar di sana, tetapi suasananya tetap sama seperti beberapa tahun lalu saat saya masih SD. Kelas, lapangan, perpus, masih sama rapinya, yang berubah adalah langit-langit bangunannya yang terasa lebih rendah. Bahkan saya dapat menyentuh lampunya ketika mengangkat tangan saya lurus secara vertikal.
Observasi yang saya lakukan di SD, sesuai dengan bagian yang saya dapatkan adalah bagian penutup. Seperti yang kita ketahui, di bagian penutup ini meliputi hal-hal seperti membuat kesimpulan, postest, follow-up, evaluasi dan sebagai-sebagainya. Untuk itulah selama seminggu penuh, rencananya saya akan menguntit guru PAI di sana. Sebab secara tatap muka di SD tersebut masuk Senin hingga Sabtu meskipun menggunakan K13. Akan tetapi, sayang sekali, dua hari setelah saya melakukan observasi, ternyata pihak sekolah melakukan rapat dan kembali melakukan tatap muka terbatas yaitu pertemuan 2-3 kali dalam seminggu saja. Yaitu hari Senin, Sabtu dan terkadang hari Selasa, tergantung dari pengumumam masuk yang diberikan oleh guru di setiap sebelum pulang sekolah.
Mengikuti aturan 6x melakukan observasi inilah akhirnya saya melakukan kegiatan di sana lebih dari dua minggu. Dan selama itu saya menikmati proses pembelajaran yang disampaikan guru. Apalagi saat itu sudah memasuki akhir semester di SD. Anak kelas 6 sudah sering melakukan praktik terutama praktik Sholat dan berwudhu.
Pada kegiatan tatap muka terbatas ini, kesempatan untuk melihat bagian penutup pembelajaran cukup sulit. Karena pada tatap muka terbatas ini, guru harus berlomba dengan waktu yang terbatas untuk memberikan materi sekaligus juga tugas sebelum guru selanjutnya mengambil alih jam pelajaran. Oleh karena itu, saya memperhatikan ada guru yang terpaksa menyatukan bagian isi pembelajaran dengan bagian penutup setelah ia memberikan tugas. Jadi materi itu hanya di jelaskan pada bagian kesimpulan dan mengharuskan peserta didik untuk lebih banyak mengetahui tentang materi di luaran atau belajar secara pribadi di LKS yang diberikan. Menurut saya, itu cukup sulit dilakukan oleh peserta didik apalagi untuk anak yang masih di bawah kelas 4 SD. Sebab mereka tidak akan terlalu mengerti dengan pembahasan yang kompleks tanpa penyederhanaan dengan bahasa yang mudah mereka serap. Apalagi itu membutuhkan waktu belajar yang lebih banyak, sedang anak usia SD di bawah kelas 4 itu, masih sulit untuk fokus dalam belajar.
Banyak kendala, banyak masalah yang datang silih berganti yang menjadi pemanis dalam pengalaman kuliah di semester 4. Mulai dari jadwal persentasi yang mundur seminggu setelah capek-capek menunggu sejak pukul 6.45 dengan hati berdebar-debar takut. Kuota sekarat dan jaringan internet yang lelet, hingga tidak dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Hingga masalah teknis seperti file yang hilang, terhapus, eror dan sebagainya sudah menjadi mainan sehari-hari semenjak itu.
Tetapi saya masih memiliki harapan yang besar. Semoga saja meskipun, mungkin di semester 5 ini, masih saja terkendala pandemi dan mengharuskannya daring atau online, semua pihak saling mengerti dengan kondisi yang kami alami. Karena sangat tidak enak saat kami, terutama di posisi mahasiswa di sebut hanya beralasan tentang jaringan yang selalu lelet. Dan mengatakan bahwa seharusnya jaringan tidak menjadi alasan lagi dalam ketidakhadiran sebab daring sudah dilakukan lebih dari setahun terakhir. Jadi sebagai mahasiswa harus rela berkorban. Itu sangat berat untuk kami amini. Apalagi saya,
Untuk ke kota, harus menyeberang laut selama 6 jam paling sebentar dan paling lama 12 jam. Dan untuk wilayah yang jaringan terbilang bagus, setiap hari harus melewati daerah yang masih jalan semen kecil yang rusak selama 1 hingga 2 jam. Dan di daerah saya, memang satu desa tidak memiliki sinyal yang bagus, bahkan saat saya berdiri di depan towernya sekalipun, sinyalnya tetap lelet. Itu sudah saya coba. Sebab towenya teletak di belakang ruko 2 Kilometer dari SMPN 4 tempat saya sekolah dulu. Bahkan ada yang lebih parah dari yang saya alami, hingga harus rela memanjat pohon yang tinggi atau ke daerah berbukit, ada yang ke dermaga, seperti teman saya Agustina dan Sri, sehingga – sedikit cerita- dermaga yang terbuat dari kayu itu putus saat hujan lebat, dan Agustina terjebak di tengah pendopo dermaga sedang air telah naik setinggi di atas di tempat ia berdiri.
Jika di minta berkorban, kami sudah berkorban, meskipun itu memang tanggungjawab kami sebagai mahasiswa. Untuk itu kami hanya ingin pengertiannya saja, kami sangat menghargai tanggung jawab yang diberikan dan juga menghargai dosen yang telah lelah seharian mengajari mahasiswa seperti kami. Harapan di dalam proses akademik, yaitu… meminta pengertian atas kekurangan kami yang terkendala jaringan, untuk keadaan seperti sekarang saja, jika sudah kembali membaik seperti dulu saat kuliah offline mungkin kami dapat mengikuti perkuliahan dengan lebih maksimal.
Harapan di luar akademik sebenarnya banyak. Salah satunya nilai semakin baik, sebab di semester 4 lalu rasanya telah melakukan semua tugas dengan maksimal, tetapi tetap kurang memuaskan, semoga saja di semester ini semakin baik dan sesuai dengan harapan dosen dan diri sendiri.
Harapan lainnya diberikan kesehatan dan rejeki yang banyak. Aamiin. Agar tetap bisa mengikuti perkuliahan dengan baik dan tidak terjangkit covid-19.
Harapan lainnya lagi, semoga pandemic covid-19 segera hilang dan semuanya dapat kembali di lakukan secara normal seperti biasanya. Mulai dari pembelajaran hingga kegiatan-kegiatan kerja lainnya.
Mungkin itu saja laporan dan harapan dari pengalaman semester lalu. Terimakasih untuk Ibu Pembimbing Akademik, yang masih menyempatkan waktunya membaca laporan yang telah saya tuliskan dan memberikan masukan atas masalah-masalah yang saya alami. Terkhususnya yang berkenaan dengan akademik seperti KRS dan bimbingan lainnya.
Semoga Ibu sehat selalu, dan tentunya tidak bosan membimbing saya, dan harapan saya sebagai mahasiswa yang telah menginjak semester lima. Mohon bimbingannya untuk semester-semester yang akan datang. Semoga saya, sebagai mahasiswa bimbingan Ibu, bisa melakukan sesuai dengan yang Ibu harapkan.
Wassalamualaikum warahmatullah.
Teluk Nibung, 29 Nov 2021
Nur Hakiki
11901348
Komentar
Posting Komentar